criticasenserie

Webtoon Mewujudkan Mimpi Komikers Lokal

Webtoon Mewujudkan Mimpi Komikers Lokal – Di era serba digital yang semakin canggih ini, banyak orang memanfaatkan media sosial sebagai tempat untuk mendapatkan uang. Contohnya, media sosial Instagram, yang saat ini sedang sangat digandrungi oleh masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan. Keberadaan media online disebutkan membuat media cetak hidup segan mati tak mau. Sementara keberadaan e-commerce dikatakan sebagai alasan mengapa banyak pusat perbelanjaan yang tutup. Sebutlah para seniman yang sering membagikan karyanya lewat Instagram dengan memanfaatkan fenomena ini sebagai ladang memperoleh penghasilan.

Webtoon Mewujudkan Mimpi Komikers Lokal

Salah satunya seniman yang kerap membagikan gambar berisi komik strip di Instagram dengan cerita yang beragam. Misalnya kisah kehidupan sehari-hari, gosip, isu sosial, dan lain sebagainya yang dikemas secara jenaka. Sekarang, profesi komikus digital tak bisa dipandang sebelah mata. Seperti yang bisa Anda lihat sendiri, akun-akun komikus digital kini meraih popularitas yang tinggi. Followers-nya pun mencapai puluhan bahkan ratusan ribu. Mereka disebut sebagai “komikus digital”, seorang komikus berbasis teknologi digital. Tak hanya proses produksinya yang memanfaatkan teknologi, proses distribusinya pun telah terdigitalisasi. poker 99

Lalu, apa keberadaan platform komik digital juga mengancam penerbit komik cetak? Tidak. Setidaknya begitulah pendapat Ghina Fianny, LINE Webtoon Manager Indonesia. Ghina menjelaskan, pada awalnya, Naver meluncurkan Webtoon di Korea Selatan karena usaha majalah komik ketika itu memang mulai sulit. Banyak penerbit yang harus gulung tikar. Ialah JunKoo Kim yang muncul dengan ide Webtoon.

Webtoon Mewujudkan Mimpi Komikers Lokal

Kim menciptakan Webtoon sebagai cara untuk mendorong para komikus lokal untuk berkarya karena ketika itu, hanya ada sedikit komik baru yang terbit. Dia merasa, komik yang panjang ke bawah akan cocok untuk ditampilkan di internet karena pembaca dapat dengan mudah melakukan scroll ke bawah ketika dibaca.

“Kalau sekarang, Webtoon sama penerbit cetak tuh saling melengkapi, nggak saling kanibal,” ujarnya. Penerbit justru terkadang tertarik untuk menerbitkan komik yang sudah tampil di Webtoon terlebih dulu. “Pembaca Webtoon kan besar dan setiap minggu mereka datang lagi, membuat mereka jadi fanatik. Jadi, begitu tahu komik yang mereka suka mau dirilis, mereka malah mau beli.”

Bagaimana cara menjadi komikus di Webtoon?

Ghina menjelaskan, ada dua jalan bagi komikus agar komiknya bisa dimuat di Webtoon. Pertama adalah melalui Webtoon Official. Di sini, Webtoon akan bertindak layaknya penerbit. Mereka akan mencari komikus yang tertarik untuk membuat konten secara berkala dan komikus akan mendapatkan bayaran secara rutin.

Komikus yang masuk melalui jalur ini harus menandatangani kontrak dengan LINE. Biasanya, kontrak akan berlangsung selama 3 tahun. Dalam kontrak, akan ditetapkan berbagai hal seperti besar bayaran yang diterima oleh komikus dan berapa episode yang bisa komikus terbitkan setiap minggu. Semakin panjang sebuah komik atau semakin sering komikus bisa menyetor konten, semakin besar pula bayaran mereka.

Satu harga mati dari LINE adalah terkait hak cipta. “Kita harus sepakat bahwa hak cipta tidak dimiliki oleh LINE, tapi dimiliki oleh kreator,” kata Ghina. Itu artinya, sang komikus bebas untuk membuat dan menjual merchandise dari karakter dalam komiknya. “Tapi kita minta hak tayang eksklusif. Serial komik mereka hanya boleh terbit di kita saja, nggak boleh di platform digital lain.”

Sementara opsi kedua adalah melalui Webtoon Challenge. “Di Webtoon Challenge, setiap orang yang bisa atau tertarik untuk membuat komik, bisa memasukkan komiknya,” kata Ghina. “Dan itu tidak ada kontraknya.” Namun, dia menambahkan, jika seorang komikus dirasa cocok dengan target pasar Webtoon, maka LINE akan mengontrak sang komikus.

Keberadaan platform digital seperti Webtoon, menurut Ghina, akan sangat membantu komikus untuk berkarya. Dia sadar, industri komik Indonesia sempat lesu pada tahun 1980-an dan 1990-an. Alasannya, karena mulai banyak komik asing yang masuk ke Indonesia.

“Memang, komik Indonesia sempat hilang dari peredaran, kita digempur oleh komik-komik luar. Namun, nggak bisa dipungkiri juga kalau komikus muda dapat pengaruh dari manga dan komik superhero dari AS. Ini justru memperkaya pengalaman dan referensi mereka,” katanya.

Dari pembelajaran yang didapat, komikus Indonesia kemudian dapat menggabungkannya dengan konten lokal, menginspirasi mereka untuk berkarya. “Kalau nggak ada komik Jepang, mungkin banyak yang tidak terinspirasi untuk membuat komik dan berkarya seperti sekarang.”

Menariknya, di Webtoon, komik Indonesia adalah raja di rumah sendiri. Ghina mengatakan, dari 10 komik terpopuler, sekitar 7-8 judul diisi oleh komik lokal. Tidak berhenti sampai di situ, sebagian komik Indonesia bahkan berhasil menembus pasar asing, seperti Thailand, Taiwan dan bahkan Jepang.

“Di Webtoon Thailand, ada komik Indonesia yang masuk di Top 10 atau bahkan Top 5,” kata Ghina. “Jadi, nggak bisa lagi bilang komik Indonesia dianaktirikan, karena komik lokal bisa berkembang di dalam dan luar negeri.”

Apakah gaji komikus cukup untuk hidup?

Saat ditanya berapa rata-rata bayaran komikus, Ghina hanya menjawab, “Rata-rata sudah cukup baik. Di atas UMR, bahkan untuk Jakarta,” katanya, enggan untuk memberikan jawaban yang lebih detail. Dia lalu bercerita tentang Anggoro Ihank, komikus asal Jawa Tengah yang memenangkan LINE Creativate tahun lalu dengan komik berjudul “Pak Guru Inyong”.

Dia bercerita, sang komikus mendadak mengajaknya ngobrol via chat, berterima kasih karena bayaran yang dia dapat dari Webtoon “di atas UMR daerahku”. Ghina mengaku, dia dan timnya cukup dekat dengan para komikus. Mereka memiliki grup chat untuk saling berkomunikasi.

Tim Webtoon Indonesia terbilang kecil. Mereka hanya terdiri dari 3 orang Indonesia yang bertanggung jawab atas konten komik dan 4 orang Korea Selatan yang mengurus sisi bisnis.”Untuk mengatur 70 kreator, kita punya grup chat di LINE. Di situ, kita komunikasi setiap hari,” kata Ghina.

“Mereka mengerti, kalau ada masalah, langsung lapor. Kami memang meminta agar komikus proaktif, kalau ada apa-apa, langsung hubungi saya atau tim.”

Protes yang paling sering dilontarkan oleh para komikus, ungkap Ghina, adalah masalah gaji yang terlambat. Namun, dia meyakinkan bahwa tim Webtoon Indonesia dan para kreator tidak pernah mengalami konflik yang terlalu besar.

Memang, ada seorang komikus yang akhirnya memutuskan untuk berhenti membuat komik, tapi Ghina mengatakan, masalah itu akhirya bisa diselesaikan dengan baik-baik. “Dia masih belum siap. Karena biasanya mengunggah komik hanya di Instagram atau di Tumblr atau di Facebook, komunitasnya kecil dan itu teman-temannya. Jadi, kalau di Webtoon, dia kayak dilepas di laut, isinya ikan-ikan galak. Dia kayak shock,” kata Ghina.

Salah satu saran Ghina untuk Anda yang tertarik untuk masuk ke industri komik adalah: “Jangan baper.” Dia berkata, “Mantapkan tekad dan profesionalitas. Kalau sudah dikontrak, jangan terlambat memenuhi deadline. Jika sudah janji ke pembaca untuk menerbitkan komik setiap Senin, harus ditepati. Itu harus dilatih.”